Macet Itu Nangis

20 Oct 2010

Baru-baru ini saya dihubungi melalui BlackBerry Messanger (BBM) oleh teman baik saya, yang kebetulan juga teman SMA saya dulu. Melalui BBM, dia mengabarkan bahwa dia baru saja belajar menyetir mobil, dan dia ingin saya sebagai teman baiknya, untuk menjadi salah satu orang pertama yang dia setirin.

Tun, katanya di BBM, memanggil saya dengan sebutan Mutun, sebutan saya sewaktu masih SMA. Gue akhirnya bisa belajar nyetir! Yay!

Terus? tanya saya.

Gue mau nyetirin elo. Gue mau pamer.

Boleh. Mau kapan? tanya saya, tanpa sadar bahwa saya sedang membahayakan keselamatan jiwa saya sendiri. Kami pun menentukan tanggal kapan kita akan berdua di satu mobil.

Selanjutnya, saya berada di depan rumahnya, sambil menunggu dia mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Ketika dia mengeluarkan mobil, dia menabrak ember biru yang ada di samping kiri garasinya. Oke, tanda-tandanya udah tidak baik. Saya lalu menaiki mobil tersebut dan berkata,

Lo sadar kan tadi lo nabrak ember?

Salah sendiri ember itu ngalingin jalan, katanya, kalem.

Saya semakin merasa seharusnya saya membuat surat wasiat dulu sebelum menaiki mobil ini.
Selanjutnya, kami berdua lalu pergi dari Kemang dengan tujuan pergi ke Sudirman. Hari itu hari kerja, dan kebetulan saya sedang tidak ada kerjaan apa-apa. Dengan tersendat-sendat, kita lalu pergi ke daerah Mampang Prapatan. Situasi jalan udah padat, mobil-mobil penuh di mana-mana. Jam menunjukkan pukul lima sore. Kita pun terjebak di dalam fenomena alam khas Jakarta: macet pulang kantor. Teman saya langsung gelisah melihat antrian kendaran yang seolah tidak berujung.
Dia menggarukkan kepalanya, dan berkata,

Kok macet banget?

Iya, kan pulang kantor.

Lima menit berselang.

Kok masih macet? tanya dia lagi.

Iya, kan kita masih di jalan yang sama…

Selanjutnya setiap lima menit dia akan bertanya dan mengeluh, Kok masih macet? yang akan saya jawab dengan, Iya, sabar ya. Lalu dia diam. Saya juga diam. Tidak berapa lama kemudian saya mendengar suara isakan. Hik.. Hik.. Hik..
Saya menoleh ke arah teman saya dan mendapati dia sedang menangis.

Errr.. kok elo nangis?

Ini kenapa macet banget… hikkk.. macetnya.. hik…

Saya bingung.

Setelah mengambil alih setirnya, teman saya duduk di bangku penumpang sambil menghapus air matanya. Sementara giliran saya (dan betis kaki kiri saya) menikmati semrawutnya lalu lintas kota Jakarta.

Kemacetan Jakarta telah menjadi begitu mengerikan sehingga teman saya ini memutuskan untuk tidak berpergian lagi dengan menyetir sendiri. Tapi memang, macet memang mengeluarkan hal-hal buruk yang ada di dalam diri kita. Beberapa hari lalu saya membaca Twitter, teman saya yang lain bercerita dia sedang naik taksi dan supir taksinya muntah, karena tidak tahan lagi melihat macet. Macet juga membuat seorang teman saya lainnya, karena kesal, memukul pengendara motor yang tidak sengaja menyenggol mobilnya. Memang, dengan level kemacetan separah ini, macet Jakarta mengeluarkan hal-hal buruk di dalam diri penduduknya.


TAGS radityadika macet jakarta teman


-

Author

Follow Me